Iran: Serangan ke Ayatollah Khamenei Berarti Perang Skala Penuh
- by Alfian Risfil
- Editor Bara Ilyasa
- 18 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Iran, Masoud Pezeshkian memperingatkan bahwa setiap serangan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, berarti deklarasi perang. Menurutnya, serangan kepada sang Imam akan dianggap sebagai deklarasi perang skala penuh terhadap negara tersebut.
Pernyataan ini disampaikan Pezeshkian merespons pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyinggung soal kemungkinan mencari pemimpin baru Iran. “Serangan terhadap pemimpin besar negara kita sama saja dengan perang skala penuh dengan bangsa Iran,” ujar Pezeshkian, dilansir AFP, Senin 19 Januari 2026.
Pernyataan keras tersebut disampaikan Pezeshkian melaui unggahan di platform X pribadinya, @drpezeshkian. Hal ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Sebelumnya, Ayatollah Ali Khamenei menuduh aktor-aktor yang terkait dengan AS dan Israel bertanggung jawab atas kematian “beberapa ribu” orang di Iran. Kematian tersebut terjadi selama gelombang protes anti-pemerintah yang berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
“Mereka yang terkait dengan Israel dan AS menyebabkan kerusakan besar dan membunuh beberapa ribu orang selama protes yang mengguncang Iran. Selama lebih dari dua minggu,” kata Khamenei, dikutip dari Al Jazeera, Minggu 18 Januari 2026.
Khamenei menegaskan bahwa kedua negara tersebut terlibat langsung dalam kekerasan yang terjadi selama demonstrasi. Ia juga secara terbuka menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai “kriminal”.
“Pemberontakan anti-Iran terbaru berbeda. Karena presiden AS secara pribadi terlibat,” ujarnya.
Ketegangan ini menambah panjang daftar konflik politik dan diplomatik antara Iran dengan AS dan Israel. Terlebih saat ini situasi regional Timur Tengah masih belum stabil.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bawha dirinya telah meyakinkan diri sendiri untuk tidak mengebom Iran. Ia membantah bahwa keputusan membatalkan serangan terhadap negara Islam itu karena desakan negara-negara Arab dan Israel.
Kendati demikian, Trump menyerukan diakhirinya kekuasaan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei yang telah berlangsung selama 37 tahun. "Sudah saatnya mencari kepemimpinan baru di Iran," katanya kepada Politico pada hari Sabtu 17 Januari 2026.
"Keputusan terbaik yang pernah dia buat adalah tidak menggantung lebih dari 800 orang dua hari yang lalu," ucap Trump. Ia berpendapat bahwa kepemimpinan Iran bergantung pada penindasan dan kekerasan untuk menjalankan negara.
Trump menyalahkan Khamenei atas "kehancuran total negara Iran" dan atas penggunaan tingkat kekerasan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sehingga menyebabkan ribuan demonstran meninggal.
"Agar negara tetap berfungsi—meskipun fungsinya sangat rendah—kepemimpinan harus fokus pada menjalankan negaranya dengan benar. Seperti yang saya lakukan dengan Amerika Serikat, dan bukan membunuh ribuan orang untuk mempertahankan kendali," kata Trump.
Ia menambahkan, "Kepemimpinan adalah tentang rasa hormat. Bukan rasa takut dan kematian."
Trum menyebut Khamenei sebagai 'orang sakit'. Ia mengatakan bahwa karena kepemimpinan dari Iran yang membuat negara itu menjadi "tempat terburuk untuk ditinggali di mana pun".
Pernyataan Trump muncul tak lama setelah Khamenei bersumpah untuk "menghancurkan para penghasut" yang terlibat dalam protes kerusuhan di Iran. Ia juga menyalahkan Trump atas jatuhnya korban selama demonstrasi anti-pemerintah.
"Kami tidak bermaksud membawa negara ini ke perang, tetapi kami tidak akan mengampuni penjahat domestik," kata Khamenei kepada para pendukungnya selama pidato yang menandai hari Isra Mikraj. Ia mengatakan bahwa "penjahat internasional" juga tidak akan luput dari hukuman.
Otoritas Iran menyebut protes tersebut sebagai operasi "teroris" dan "perusuh". Serta mengeklaim bahwa itu adalah konspirasi Amerika untuk mendominasi Iran secara militer, politik, dan ekonomi.