Negara Teluk Desak AS Hindari Serangan Iran

RRI.CO.ID, Riyadh - Negara-negara Teluk Arab mendesak Amerika Serikat agar tidak melancarkan serangan militer terhadap Iran. Mereka menilai langkah tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan politik dan ekonomi di kawasan, dilansir dari Anadou, Jumat, 16 Januari 2026.

Arab Saudi memimpin upaya tersebut dengan melibatkan Oman dan Qatar dalam lobi tertutup kepada pemerintahan Presiden Donald Trump. Langkah ini dilakukan menyusul peringatan Gedung Putih kepada sekutu-sekutunya untuk bersiap menghadapi kemungkinan aksi terhadap Teheran.

Meski memilih tidak menyampaikan sikap secara terbuka, negara-negara Teluk terus memberikan tekanan di balik layar kepada pejabat Amerika Serikat. Mereka mendesak Washington agar mempertimbangkan ulang rencana langkah militer terhadap Iran.

Mereka menilai serangan terhadap Iran berpotensi mengganggu stabilitas ekonomi kawasan secara serius. Ancaman terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz, yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, menjadi kekhawatiran utama.

Gangguan di jalur strategis tersebut dinilai dapat memicu gejolak pasar energi global. Selain dampak ekonomi, negara-negara Teluk juga mengkhawatirkan risiko balasan Iran serta konsekuensi politik dan keamanan di dalam negeri masing-masing.

Arab Saudi dilaporkan telah menyampaikan kepada Teheran bahwa mereka tidak akan terlibat dalam konflik apa pun. Riyadh juga menegaskan tidak akan mengizinkan penggunaan wilayah udaranya untuk operasi militer Amerika Serikat.

Sementara itu, Presiden Donald Trump belum mengambil keputusan final terkait langkah terhadap Iran. Dalam unggahan di media sosial, Trump menyampaikan pesan dukungan kepada para demonstran Iran dengan menyerukan agar mereka tetap bertahan.

Bagi Arab Saudi, stabilitas kawasan dinilai krusial demi kelangsungan agenda Visi 2030 yang bertujuan mendiversifikasi ekonomi. Para analis menyebut negara-negara Teluk lebih menginginkan reformasi domestik di Iran dibandingkan runtuhnya rezim yang berpotensi menimbulkan kekacauan berkepanjangan.

Iran sendiri telah diguncang gelombang protes sejak akhir Desember akibat krisis ekonomi, anjloknya nilai rial, dan memburuknya kondisi hidup. Demonstrasi tersebut menyebar ke berbagai kota dan memicu tindakan keras aparat keamanan.

Rekomendasi Berita