Pemerhati: Ketegangan Iran Belum Mengarah Invasi AS

KBRN, Jakarta: Pakar Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Suzie Sudarman mengatakan, meningkatnya ketegangan di Iran belum mengarah adanya invasi Amerika Serikat. Diketahui, ketegangan di Iran meningkat seiring adanya protes nasional dan tekanan geopolitik yang menimbulkan internasional soal stabilitas kawasan Timur Tengah.

Respons keamanan Iran serta dukungan Amerika Serikat terhadap demonstran dinilai berpengaruh besar pada arah eskalasi konflik regional. Menurutnya, jika langkah drastis itu benar-benar terjadi, maka akan memporak-porandakan berbagai upaya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

"Jika suatu negara sedang terkepung, yang mati atau hidupnya di tangan negara-negara lain. Maka harus melakukan sesuatu demi kelestarian negaranya," kata Suzie dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis (15/1/2026).

Ia melihat respons Iran menghadapi tekanan geopolitik melalui langkah-langkah pengamanan internal adalah sebagai bentuk pertahanan negara. Ia meyakini, pemutusan akses internet menjadi salah satu langkah defensif saat negara sedang berada di dalam tekanan eksternal.

Lebih lanjut, kebijakan pengamanan tersebut dipandang sebagai upaya menjaga stabilitas nasional di tengah meningkatnya ancaman eksternal. Ia menekankan, Iran bukan negara yang mudah ditundukkan, Iran memiliki sejarah panjang dan kekuatan sosial yang solid.

Iran, kata dia, disebut memiliki karakter masyarakat Persia yang khas. "Berbeda dari negara-negara Arab yang sudah terikat beberapa pihak," ucapnya, menambahkan.

Sementara itu, Pakar Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, menyoroti aspek hukum internasional dalam konflik Iran. Menurutnya, dukungan Amerika Serikat terhadap demonstran melanggar prinsip non-intervensi internasional yang menjunjung kedaulatan dan hukum antarnegara.

Ia mengatakan, konflik di Iran merupakan urusan domestik yang seharusnya tidak dicampuri pihak luar mana pun. "Bahwa negara itu tidak boleh menggunakan ancaman atau kekuatan terhadap integritas teritorial atau kemerdekaan politik negara lain,” ujarnya.

Menurutnya, pembatasan internet yang dilakukan Iran merupakan langkah untuk menjaga kedaulatan dan stabilitas nasional negara tersebut. “Dalam hal diblokirnya saluran internet atau komunikasi ini adalah hak prerogatif Iran untuk menjaga kedaulatan negaranya,” ujarnya. (Edelweis Davina Muchtar)

Rekomendasi Berita