Cara Tepat Menghadapi Anak Tantrum Menurut Ahli Neurologi
- by Nani Nurastuti
- Editor Lalang Gumilang
- 19 Jan 2026
- Sungailiat
RRI.CO.ID,Sungailiat - Tantrum pada anak merupakan kondisi yang kerap membuat orang tua cemas dan kewalahan. Anak dapat menangis keras, berteriak, hingga sulit dikendalikan, baik di rumah maupun di tempat umum. Kondisi ini umum terjadi pada anak usia dini dan menjadi bagian dari proses tumbuh kembang.
Dokter spesialis anak konsultan neurologi, Prof. Dr. dr. Hardiono D. Pusponegoro, Sp.A(K), menjelaskan bahwa tantrum merupakan luapan emosi anak ketika belum mampu mengungkapkan keinginan dan perasaannya secara verbal.
“Tantrum bukan perilaku nakal, melainkan cara anak mengekspresikan emosi saat ia belum mampu mengontrolnya,” jelas Prof. Hardiono.
Ia menerangkan, tantrum umumnya dialami anak usia
1 hingga 5 tahun, ketika kemampuan bicara dan pengendalian emosi masih dalam tahap perkembangan. Tantrum dapat muncul saat anak merasa lelah, lapar, mengantuk, atau keinginannya tidak terpenuhi. Situasi yang membuat anak frustrasi juga dapat memicu reaksi emosional tersebut.Tantrum bisa terjadi di mana saja, mulai dari rumah, sekolah, hingga tempat umum. Lingkungan yang ramai atau asing sering kali membuat emosi anak semakin sulit dikendalikan.
Menurut Prof. Hardiono, secara neurologis, kondisi ini berkaitan dengan perkembangan otak anak. Bagian otak yang berfungsi mengatur emosi dan kontrol diri, yakni
korteks prefrontal, belum berkembang sempurna.“Pada anak kecil, pusat emosi di otak bekerja lebih dominan dibandingkan pusat kontrol diri, sehingga emosi mudah meledak,” ujarnya.
Dalam menghadapi tantrum, Prof. Hardiono menyarankan orang tua untuk tetap tenang dan tidak terpancing emosi. Ia menegaskan agar orang tua menghindari membentak, mengancam, atau melakukan kekerasan fisik.
“Orang tua perlu menjadi contoh pengendalian emosi. Tunggu sampai anak tenang, lalu ajak bicara dengan bahasa yang sederhana dan penuh empati,” kata Prof. Hardiono.
Selain itu, ia menekankan pentingnya konsistensi aturan di rumah, memberikan rasa aman melalui sentuhan seperti pelukan, serta mengenali pemicu tantrum agar dapat dicegah di kemudian hari.
Hal senada disampaikan
Risna, seorang ibu dengan anak usia tiga tahun di Sungailiat. Ia mengaku sempat merasa kewalahan saat pertama kali menghadapi tantrum anaknya, terutama ketika terjadi di tempat umum.“Awalnya saya sering panik dan bingung harus berbuat apa. Anak saya bisa menangis keras dan sulit ditenangkan jika keinginannya tidak terpenuhi,” ujar Ibu Risna.
Namun, setelah memahami bahwa tantrum merupakan bagian dari perkembangan emosi anak, ia mulai mengubah cara menyikapinya. Risna memilih untuk tetap tenang dan menunggu anaknya mereda sebelum mengajak berbicara.
“Saya biasanya memeluk anak saya dulu sampai dia tenang, lalu menjelaskan pelan-pelan. Cara itu ternyata lebih efektif dibandingkan memarahi,” katanya.
Menurut Risna, kesabaran dan konsistensi menjadi kunci utama. Ia juga mulai mengenali tanda-tanda ketika anaknya mulai lelah atau lapar agar tantrum dapat dicegah.
“Tantrum memang melelahkan, tapi dari situ saya belajar menjadi orang tua yang lebih sabar dan memahami emosi anak,” tambahnya.
Dengan pendekatan yang tepat dan pemahaman yang baik, tantrum dapat menjadi momen pembelajaran bagi anak untuk mengenali serta mengelola emosinya secara sehat, sekaligus menjadi proses belajar bagi orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak