Sarapan Rp10.000, Ruang Tumbuh UMKM Pontianak

KBRN, Pontianak: Di Pontianak, lapak sarapan murah kini bukan lagi hal asing. Harga Rp10.000 justru menjadi magnet baru yang mendekatkan kebutuhan harian masyarakat dengan geliat UMKM lokal. Di tengah tren itu, Lapak “Sarapan Enak 10.000 Pacasila” hadir bukan sekadar menjual makanan pagi, tetapi membuka ruang kolaborasi bagi ratusan pelaku usaha.

Fildza (39), owner Sarapan Enak 10.000 Pancasila yang membuka lapak di Jl. Gusti Hamzah atau dikenal dengan Jl. Pancasila ini mengaku ide tersebut berawal dari pengalamannya melihat konsep serupa di luar Kalimantan. Ia memberanikan diri membuka lapak pada 7 Juli 2025, meski saat itu belum banyak yang yakin konsep sarapan murah bisa bertahan.

“Saya terinspirasi dari beberapa kota di Jawa, salah satunya Majalengka. Saya lihat ada yang bisa jual sampai 500 box per hari, dari situ saya tertarik dan coba memberanikan diri buka di Pontianak,” ujarnya saat ditemui di lapaknya (29/12/2025).

Menurut Fildza, sarapan adalah kebutuhan dasar yang tidak pernah berhenti. Tantangannya adalah bagaimana menghadirkan pilihan yang praktis, terjangkau, namun tetap layak dinikmati semua kalangan, termasuk anak sekolah dan orang kantoran. Dalam waktu sekitar enam bulan, Lapak Sarapan Enak 10.000 Pancasila berkembang pesat. Dari hanya tujuh mitra UMKM dengan belasan menu di awal, kini tercatat lebih dari 300 menu yang dijajakan oleh 142 UMKM kuliner dari Pontianak dan Kubu Raya.

“Sekarang menu kita sudah 303 menu. Yang gabung ada 142 UMKM. Harapan saya ke depan makin banyak lagi, supaya mitra UMKM ini bisa lebih dikenal luas oleh masyarakat,” kata Fildza.

Uniknya, setiap mitra UMKM diberi kebebasan membawa identitasnya sendiri. Mereka diperbolehkan mencantumkan nama dan stiker brand masing-masing pada kemasan. Namun, Fildza menegaskan, keterbukaan tetap dibarengi seleksi. Kualitas rasa, kemasan, dan konsistensi menjadi standar utama sebelum sebuah produk boleh dijual. Tidak semua UMKM bisa langsung bergabung, beberapa harus melalui proses koreksi dan uji coba berkali-kali. Fildza sendiri memiliki tim penyeleksi makanan untuk tester yang menyeleksi makanan.

“Harga kita Rp10.000, tapi bukan berarti asal. Kita tetap seleksi rasa, packaging, dan kualitas. Supaya yang beli nggak kecewa dan UMKM juga punya standar,” kata Fildza.

Bagi Fildza, lapak ini bukan soal bersaing dengan lapak serupa, melainkan soal visi bersama. Ia menargetkan pembukaan beberapa titik baru di Pontianak sebagai langkah awal sebelum memperluas jangkauan ke wilayah lain di Kalimantan Barat.

Lebih dari sekadar tempat titip jualan,lapak Sarapan Enak 10.000 Pancasila menjadi ruang belajar bagi UMKM tentang konsistensi dan ketekunan. Bahkan, dengan modal kecil, beberapa mitra disebut mampu meraih omzet bersih hingga mendekati satu juta rupiah.

Di tengah naiknya tren sarapan murah di Pontianak, kisah Sarapan Enak 10.000 menunjukkan bahwa harga terjangkau bisa berjalan seiring dengan pemberdayaan UMKM asal dikelola dengan visi, kualitas, dan keberanian untuk tumbuh bersama.

Rekomendasi Berita