Bisnis Yang Jujur Akan Membangun Kepercayaan Jangka Panjang
- by Amran Syarifuddin
- Editor Femmy Asti Yofani
- 15 Jan 2026
- Pekanbaru
RRI.CO.ID, Pekanbaru - Kejujuran merupakan fondasi utama dalam menjalankan bisnis menurut ajaran Islam. Hal itu disampaikan Ustadz Dr. H. Hartono, M.Pd dalam siaran Mutiara Pagi Pro-1 RRI Pekanbaru, Kamis, 15 Januari 2026.
“Sesungguhnya inti dari bisnis dalam Islam adalah kejujuran, di samping kemampuan manajerial dan sistem yang dibangun, namun yang paling menentukan tetaplah kejujuran,” ujar Ustadz Hartono.
Ia menegaskan bahwa bisnis yang tidak dibangun di atas nilai kejujuran hanya akan memberikan keuntungan semu.
“Usaha yang berdiri di atas kebohongan mungkin tampak menguntungkan, tetapi pada akhirnya akan runtuh dengan sendirinya,” katanya.
Dalam tausiyahnya, Ustadz Hartnono mengutip Al-Qur’an Surat Al-Maidah ayat 119 yang berbunyi :
قَالَ اللّٰهُ هٰذَا يَوْمُ يَنْفَعُ الصّٰدِقِيْنَ صِدْقُهُمْۗ لَهُمْ جَنّٰتٌ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ١١٩
Yang artinya :
“Ini adalah hari yang kebenaran orang-orang yang benar bermanfaat bagi mereka. Bagi merekalah surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. Al-Maidah Ayat 119)
“Kejujuran mencakup banyak aspek, mulai dari ucapan, janji, kesepakatan, hingga kejujuran dalam timbangan dan kualitas barang yang diperjualbelikan,” ucap ustadz Hartono
Menurutnya, kejujuran dalam berbisnis akan melahirkan kepercayaan dari konsumen dan mitra usaha. Bisnis yang jujur akan membangun kepercayaan pelanggan, menghadirkan keberkahan, serta memberikan keuntungan dalam jangka panjang. Ia juga mengingatkan keutamaan pedagang yang jujur sebagaimana disebutkan dalam hadis Nabi Muhammad SAW.
“Pedagang yang jujur dan amanah kelak akan dikumpulkan bersama para nabi,” tuturnya seraya mengutip hadis riwayat Tirmidzi.
Lebih lanjut, Ustadz Hartnono menjelaskan bahwa dalam dunia bisnis terdapat nilai amanah yang harus dijaga oleh setiap pelaku usaha.
“Amanah adalah bentuk kejujuran yang melandasi kepercayaan, dan kepercayaan itu tidak akan pernah bisa dibangun dengan kebohongan,” tuturnya.
Ia menyoroti praktik kecurangan dalam timbangan dan takaran yang dilarang keras dalam Islam, sebagaimana tertuang dalam Surat Al-Muthaffifin ayat 1 hingga 3.
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَۙ ١ الَّذِيْنَ اِذَا اكْتَالُوْا عَلَى النَّاسِ يَسْتَوْفُوْنَۖ ٢ وَاِذَا كَالُوْهُمْ اَوْ وَّزَنُوْهُمْ يُخْسِرُوْنَۗ ٣
Yang artinya :
Celakalah orang-orang yang curang (dalam menakar dan menimbang)! (1) (Mereka adalah) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka minta dipenuhi. (2) (Sebaliknya,) apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka kurangi. (3) (QS. Al-Muthaffifin Ayat 1-3)
Menurut ustadz Hartono, ketidakjujuran dalam menimbang dan mengukur adalah bentuk pengkhianatan yang merusak sendi-sendi bisnis. Ada juga larangan penimbunan barang yang dilatarbelakangi ketidakjujuran. Jika barang tidak tersedia padahal ditimbun untuk menaikkan harga merupakan kecurangan, karena hukum ekonomi berlaku saat barang langka dan permintaan tinggi maka spekulan akan menaikkan harga, dan ini haram hukumnya.
Menutup tausiyahnya, ia menegaskan bahwa Islam mengajarkan bisnis yang saling menguntungkan dan berkeadilan.
“Penjual, pembeli, hingga mitra bisnis harus sama-sama diuntungkan, karena Allah sangat melaknat praktik bisnis yang dilandasi ketidakjujuran,” katanya.