Kepala BPOM: Puasa Ramadan Bisa Bikin Otak Lebih Sehat
- 13 Feb 2026 08:24 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyambut Ramadan 1447 Hijriah dengan menggelar kajian keagamaan dan pemberian santunan kepada para pekerja pendukung di lingkungan kantor. Seperti, petugas kebersihan, satpam, sopir, dan pramusaji.
Kepala BPOM, Taruna Ikrar, mengatakan Ramadan menjadi momentum penting bukan hanya secara spiritual. Tetapi juga sebagai penguat empati sosial di lingkungan lembaga.
“BPOM berdiri bukan hanya oleh pejabat dan tenaga profesional, tetapi juga oleh orang-orang yang setiap hari memastikan kantor tetap bersih, aman, dan berjalan. Ramadan adalah waktu terbaik untuk menghormati dan berbagi kepada mereka,” ujar Taruna Ikrar di Gedung Bhineka Tunggal Ika BPOM, Jakarta, 12 Februari 2026.
Dalam kegiatan tersebut, BPOM menghadirkan dai kondang Ustadz Nur Maulana untuk memberikan tausiyah yang diikuti seluruh jajaran BPOM baik secara luring maupun daring dari berbagai daerah di Indonesia.
Pada kesempatan itu, Taruna Ikrar menekankan bahwa perintah puasa dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183 tidak hanya berdimensi ibadah. Tetapi juga mengandung hikmah besar bagi kesehatan tubuh dan peningkatan ketakwaan.
Ia menjelaskan, dari perspektif kesehatan dan neurosains, puasa sekitar 16 jam memicu sejumlah proses fisiologis penting dalam tubuh. “Saat kita berpuasa kurang lebih 16 jam, ada tiga proses fisiologis penting yang terjadi di dalam tubuh,” ujarnya.
Proses pertama adalah glikolisis, yakni pemecahan glukosa sebagai sumber energi. Dalam delapan jam pertama, tubuh memanfaatkan cadangan energi dari makanan sahur.
Setelah itu, tubuh mulai menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi alternatif. “Proses ini membantu membersihkan pembuluh darah dari simpanan yang berpotensi menjadi sumber penyakit,” katanya.
Proses berikutnya adalah autofagi, yaitu mekanisme alami tubuh untuk membuang sel-sel yang rusak dan menggantinya dengan sel baru melalui regenerasi. Mekanisme ini diyakini berkontribusi dalam mencegah berbagai penyakit metabolik seperti obesitas, diabetes, penyakit degeneratif, hingga kanker dan penyakit jantung koroner.
Menurut Taruna, dari sisi neurosains, proses ini juga berdampak positif pada kesehatan otak. Karena membantu peremajaan sel dan menjaga fungsi kognitif.
Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi budaya baru di BPOM sebagai lembaga pengawas yang tidak hanya kuat dalam sains dan regulasi. Tetapi juga dalam nilai kemanusiaan.
“Ramadan bukan hanya datangnya bulan, tetapi datangnya kesempatan. Kita siapkan hati sebelum tubuh berpuasa,” ucapnya.
Sementara itu, Ustadz Nur Maulana mengingatkan bahwa persiapan Ramadan harus dimulai dari hati sebelum fisik berpuasa. Ia menyampaikan pesan hikmah menyambut 1 Ramadan yang ditetapkan pemerintah melalui sidang isbat pada 17 Februari dengan pemantauan hilal di 124 titik di seluruh Indonesia.
Ia mengajak umat Islam untuk melakukan sujud syukur dengan membaca tasbih lengkap 11 kali sebagai bentuk rasa syukur dipertemukan kembali dengan Ramadan. Serta memperbarui niat setiap malam sebelum Subuh.
“Ya Allah berikan aku rezeki untuk menjalankan ibadah di bulan Ramadan. Berniat puasa sebulan penuh karena Allah Ta’ala, memperbarui niat setiap malam sebelum Subuh, serta menyambut malam pertama dengan ucapan Marhaban Ya Ramadan,” ujarnya.
Ustadz Maulana juga mengingatkan tentang keutamaan Lailatul Qadar yang nilainya setara dengan ibadah lebih dari 1.000 bulan atau sekitar 83 tahun 4 bulan. Pada kegiatan penyambutan Ramadan 1447 H ini, BPOM turut memberikan santunan kepada 300 pekerja pendukung.
Mereka menerima paket kebutuhan Ramadan dan santunan secara langsung. Sejumlah penerima mengaku terharu karena baru pertama kali merasakan perhatian khusus dari pimpinan dalam acara resmi lembaga.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....