Ahmadiyah Luncurkan Buku 100 Tahun Keberagamaan
- 21 Jan 2026 14:53 WIB
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Jakarta - Jemaat Muslim Ahmadiyah Indonesia meluncurkan buku refleksi 100 tahun keberagamaan dan kerja kemanusiaan di Indonesia. Buku ini merekam perjalanan satu abad kehadiran Muslim Ahmadiyah di Indonesia melalui refleksi 100 tokoh Indonesia non-Ahmadiyah.
Amir Nasional Ahmadiyah Zaki Firdaus Sahid menegaskan Ahmadiyah meyakini agama sebagai rahmatan lil alamin dan hudan lin-nas. Ia mengakui perjalanan Ahmadiyah tidak lepas dari tantangan dan tekanan sosial, namun jemaat memilih jalan kesabaran dan konsistensi.
“Sejak hadir di Indonesia 1925, Ahmadiyah menapaki jalan damai melalui pendidikan, kemanusiaan, penguatan rohani, serta menebar cinta kasih. Kami meyakini kebenaran akan menemukan jalannya sendiri,” kata Zaki Firdaus Sahid dalam keterangan pers, Rabu, 21 Januari 2026.
Zaki menjelaskan bahwa buku tersebut disunting oleh Prof Ismatu Ropi dan Dedy Ibmar serta disusun dalam dua jilid. Pasalnya, Ahmadiyah sebagai kelompok keagamaan tidak pernah hadir dalam ruang hampa.
“Kehadiran Ahmadiyah selalu bersinggungan dengan dinamika. Mulai dari sosial, budaya, politik, dan keagamaan yang kompleks,” ucap Zaki.
Sementara, Prof Ismatu Ropi menyebut jilid pertama memotret 100 tahun keberagamaan dan kerja kemanusiaan Ahmadiyah dari berbagai perspektif. Jilid kedua menyoroti ketahanan dan kepemimpinan perempuan Ahmadiyah, lingkungan, demokrasi, solidaritas lintas iman, serta hukum konstitusi perspektif nasional.
“Jilid pertama memotret 100 tahun keberagamaan dan kerja kemanusiaan Ahmadiyah. Sementara, untuk jilid kedua menyoroti kepemimpinan perempuan, lingkungan, demokrasi, solidaritas lintas iman, serta perspektif hukum dan konstitusi nasional,” ucap Ismatu Ropi.
Salah satu penulis buku, Menteri Agama RI periode 2014–2019 Lukman Hakim Saifuddin, menilai Ahmadiyah kerap disalahpahami. Ia juga menilai soliditas organisasi Ahmadiyah sering dipersepsikan sebagai eksklusivitas.
“Sering terjadi bukan soal niat, tetapi kesalahpahaman, terutama pada isu teologis seperti kenabian. Ahmadiyah adalah ormas Islam global yang paling solid dan well organized. Kohesivitas itu justru kekuatan, tetapi kerap disalahpahami,” kata Lukman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....