KBRN, Medan: Dalam kehidupan sehari-hari, kucing hadir hampir di mana saja. Ia bisa ditemui di teras rumah, sudut kampus, warung kopi, lorong perkantoran, hingga ruang-ruang publik kota. Keberadaannya seolah menyatu dengan denyut kehidupan manusia modern.
Belakangan, kucing tidak lagi dipandang sekadar hewan peliharaan. Ia menjelma menjadi bagian dari gaya hidup. Banyak orang memilih memelihara kucing sebagai teman hidup, bukan karena tren semata, tetapi karena kebutuhan emosional.
Sejumlah penelitian menunjukkan interaksi manusia dengan hewan, termasuk kucing, memiliki dampak positif bagi kesehatan mental. Mengelus kucing, mendengar dengkurannya, atau sekadar melihatnya tidur dapat membantu menurunkan tingkat stres dan kecemasan.
Dalam dunia yang penuh notifikasi, target, dan tuntutan produktivitas, kucing justru hadir sebagai makhluk yang tidak pernah menuntut apa pun selain ruang dan rasa aman.
Dalam konteks gaya hidup, kucing juga mengubah cara manusia memandang relasi. Banyak pemilik kucing mengaku belajar tentang empati, kesabaran, dan perhatian dari hewan ini. ”Merawat kucing berarti belajar memahami bahasa tubuh, mengenali kebutuhan tanpa kata, dan menghargai batasan,” ucap Rita, seorang pecinta sekaligus pemelihara kucing.
Media sosial juga ramai dipenuhi konten kucing baik sedang tidur maupun saat berjalan santai tanpa tujuan. Banyak kalangan menganggap, kucing menjadi simbol gaya hidup pelan (slow living) yang diam-diam dirindukan banyak orang.
Ratih, seorang mahasiswa yang gemar membuat konten kucing di media sosial mengatakan kucing adalah teman sejati walau dalam diam. Baginya, moment kucing tidur mengajarkan bahwa hidup tidak selalu harus diisi dengan kejaran, tetapi juga dengan jeda.