Kim Gordon Menyuarakan Perlawanan Lewat Album PLAY ME
- by Doddy Iskandar
- Editor Erlinda Rahman
- 16 Jan 2026
- Medan
RRI.CO.ID, RRI Medan - Musisi legendaris Kim Gordon, kembali menyuarakan kritik tajam terhadap realitas sosial dan teknologi modern melalui album terbarunya bertajuk PLAY ME. Dalam karya ini, Gordon, menyoroti era yang ia sebut sebagai “imperium sekarang”, sebuah kondisi ketika manusia dapat dengan mudah menghilang di tengah derasnya arus digital dan kekuasaan teknologi. Nuansa ini tercermin sejak lagu-lagu awal yang menghadirkan irama tajam, lirik abstrak, serta pendekatan eksperimental yang khas.
Sejumlah lagu di album ini menjadi medium kritik sosial yang lugas, namun satir. Lagu “No Hands” menangkap sikap sembrono dalam suasana nasional, sementara “Subcon” menggambarkan keterasingan hidup di era platform digital sekaligus menyindir ambisi kolonisasi luar angkasa. Kritik juga diarahkan pada maskulinitas toksik melalui “Square Jaw”, serta ketergantungan manusia pada teknologi lewat “Dirty Tech” yang menyinggung dampak A.I. dan kerusakan lingkungan. “Aku sempat bertanya-tanya, apakah bosku berikutnya nanti adalah chatbot A.I.?” ujar Gordon, menegaskan keresahannya terhadap masa depan manusia.
Humor gelap menjadi benang merah dalam
PLAY ME untuk menggambarkan absurditas hidup modern. Lagu “Busy Bee” memelintir percakapan lama Gordon dengan Julia Cafritz menjadi suara bernada tinggi, menghadirkan kritik atas tekanan hidup kontemporer, dengan Dave Grohl mengisi permainan drum. Sementara itu, “ByeBye25” merekonstruksi lagu pembuka album The Collective menggunakan lirik dari daftar kata terlarang versi Donald Trump, menghasilkan sindiran politik yang kering dan sinis, namun relevan sebagai karya seni perlawanan.Judul lagu “Play Me” sendiri menyoroti budaya playlist dan algoritma melalui daftar nama playlist Spotify yang dinyanyikan dengan gaya sprechgesang di atas irama trip-hop. Gordon menilai fenomena ini sebagai bentuk tirani kenyamanan modern. “Itu bagian dari budaya kenyamanan yang kita jalani sekarang, di mana pilihan kita seolah terus dikurasi dan diprediksi sebelum kita merasakannya. Menurutku itu menarik, tapi juga sangat mengganggu,” kata Gordon, dalam siaran pers yang diterima RRI Medan, Jumat (16/1/2026).