Benarkah KB Memicu Kanker Payudara? Ini Fakta Medisnya

RRI.CO.ID, Mataram - Isu mengenai kontrasepsi hormonal atau KB yang disebut-sebut dapat memicu kanker payudara masih menjadi kekhawatiran di kalangan perempuan. Padahal, metode kontrasepsi ini merupakan salah satu pilihan utama dalam program keluarga berencana di Indonesia.

Kontrasepsi hormonal bekerja dengan mengatur hormon reproduksi wanita, terutama estrogen dan progestin (turunan progesteron). Mekanisme kerjanya meliputi penghentian ovulasi, penipisan lapisan rahim, serta pengentalan lendir serviks agar sperma sulit mencapai sel telur.

Beberapa jenis kontrasepsi hormonal yang umum digunakan antara lain pil KB kombinasi yang mengandung estrogen dan progestin, pil progestin saja atau mini pill, suntik KB satu bulan dan tiga bulan, implan atau susuk KB, serta IUD hormonal yang melepaskan hormon levonorgestrel secara perlahan di dalam rahim.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI tahun 2021, kontrasepsi hormonal masih menjadi pilihan utama perempuan usia subur di Indonesia. Sekitar 48,5 persen pengguna KB memilih suntik, 26,6 persen menggunakan pil, dan 9,2 persen memakai implan.

Lantas, benarkah kontrasepsi hormonal dapat menyebabkan kanker payudara? Penelitian besar yang dipublikasikan dalam

New England Journal of Medicine terhadap lebih dari 1,8 juta perempuan menunjukkan bahwa pengguna kontrasepsi hormonal memiliki risiko relatif kanker payudara sekitar 1,09 hingga 1,38 kali dibandingkan perempuan yang tidak menggunakannya. Risiko tersebut cenderung meningkat seiring lamanya penggunaan.

Meski demikian, peningkatan risiko tersebut tergolong kecil secara absolut. Dari 10.000 perempuan yang menggunakan kontrasepsi hormonal selama 10 tahun, diperkirakan hanya terdapat sekitar 13 kasus tambahan kanker payudara dibandingkan dengan kelompok non-pengguna.

Selain itu, kontrasepsi hormonal juga diketahui memberikan manfaat lain, yakni menurunkan risiko kanker ovarium dan kanker endometrium. Dengan demikian, secara keseluruhan manfaat penggunaan kontrasepsi hormonal masih dinilai signifikan.

Secara medis, hormon sintetis dalam kontrasepsi hormonal menyerupai estrogen dan progesteron alami yang dapat memengaruhi sel epitel payudara yang memiliki reseptor hormon. Dalam kondisi tertentu, paparan hormon dapat merangsang pertumbuhan sel payudara. Namun, efek ini sangat dipengaruhi oleh durasi penggunaan, jenis hormon, serta faktor individu seperti usia, riwayat keluarga, dan faktor genetik.

Penelitian terbaru oleh Kuhl pada 2023 menunjukkan bahwa risiko tertinggi kanker payudara justru ditemukan pada terapi estrogen-progestin pada perempuan pascamenopause, bukan pada dosis kontrasepsi hormonal yang digunakan oleh wanita usia muda.

Para ahli pun menegaskan bahwa penggunaan KB sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kesehatan masing-masing individu. Konsultasi dengan tenaga medis diperlukan agar pemilihan metode kontrasepsi tetap aman dan memberikan manfaat optimal bagi kesehatan perempuan.

Rekomendasi Berita