Balai Bahasa NTB Prioritaskan Guru Dalam Program Literasi
- by Kholil Bisri
- Editor Agoes Santhosa
- 12 Jan 2026
- Mataram
KBRN, Mataram: Balai Bahasa Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menetapkan penguatan guru sebagai fokus utama strategi literasi tahun 2026. Kebijakan ini disusun setelah dilakukan evaluasi terhadap hasil intervensi literasi pada tahun sebelumnya.
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa keberhasilan program literasi sangat dipengaruhi oleh kualitas guru di sekolah. Guru dinilai memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran sehari-hari.
Balai Bahasa NTB kemudian merancang program intervensi terhadap 100 guru sebagai langkah lanjutan. Kepala Balai Bahasa NTB, Dra. Dwi Pratiwi, M.Pd., menyebut pendekatan ini dirancang berbasis data dan kebutuhan riil di lapangan.
“Guru adalah kunci perubahan di sekolah. Jika kemahiran berbahasa gurunya meningkat, dampaknya akan langsung dirasakan siswa. Inilah fokus strategi kami,” ujarnya, Senin (12/1/2026).
Program intervensi tersebut diawali dengan pemetaan kemampuan guru. Para peserta akan mengikuti Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia sebagai dasar penyusunan pola pendampingan.
Hasil pemetaan digunakan untuk memastikan intervensi tidak bersifat seragam. Balai Bahasa menekankan pentingnya penyesuaian program dengan kondisi masing-masing guru.
“Uji kemahiran ini bukan untuk menilai atau menghakimi. Ini alat untuk membaca kondisi awal guru. Dari situ kami bisa menyusun pendampingan yang tepat,” kata Dwi Pratiwi.
Pendampingan akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Balai Bahasa tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga memantau penerapan hasil pendampingan di sekolah.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu membangun kebiasaan literasi yang konsisten. Guru diarahkan untuk mengintegrasikan literasi dalam proses belajar mengajar.
Selain penguatan bahasa Indonesia, program ini terintegrasi dengan literasi membaca dan menulis. Pendekatan terpadu ini dinilai lebih efektif dalam meningkatkan kecakapan literasi siswa.
Dwi Pratiwi menyebut intervensi guru sebagai investasi jangka panjang di bidang pendidikan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tetapi diyakini berkelanjutan.
“Perubahan tidak bisa instan. Kami ingin membangun fondasi yang kuat. Jika guru konsisten, perubahan akan berjalan perlahan tetapi pasti,” tuturnya.
Pelaksanaan program juga melibatkan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan. Sinergi lintas lembaga dinilai penting untuk memperluas dampak program.
Ke depan, Balai Bahasa membuka peluang perluasan cakupan intervensi. Evaluasi berkala akan menjadi dasar pengambilan kebijakan lanjutan.
Dengan menjadikan guru sebagai pusat strategi, Balai Bahasa NTB optimistis penguatan literasi 2026 akan lebih berdampak. Langkah ini diharapkan memperkuat kualitas pendidikan dan kebahasaan di NTB secara menyeluruh.