Cuaca Ekstrem Mengintai, Polres Lombok Barat Perketat Pengamanan Ternak

RRI.CO.ID., Lombok Barat: Cuaca ekstrem yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Barat menjadi perhatian serius aparat kepolisian. Hujan lebat disertai angin kencang dinilai berpotensi membuka celah terjadinya tindak kriminal, khususnya pencurian hewan ternak milik warga.

Kapolres Lombok Barat melalui Kasi Humas Polres Lombok Barat, Iptu Amirudin, mengungkapkan kondisi cuaca buruk kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan. Menurutnya, suara bising akibat hujan deras dan angin kencang sering kali menutupi aktivitas mencurigakan di sekitar kandang.

“Tentu ada korelasinya. Saat hujan lebat dan angin kencang, suara gaduh di sekitar kandang sering tersamarkan. Pelaku kejahatan memanfaatkan situasi ini karena menganggap pemilik ternak sedang terlelap atau enggan keluar rumah,” ujar Iptu Amirudin, Kamis (15/1/2026).

Ia menegaskan, Polres Lombok Barat tidak ingin cuaca ekstrem dijadikan celah oleh pelaku kriminal. Oleh karena itu, langkah antisipasi diperkuat dengan menitikberatkan pada dua aspek utama, yakni keamanan dan keselamatan warga.

“Fokus kami ada dua: keamanan dan keselamatan. Bhabinkamtibmas kami instruksikan turun langsung mengecek lokasi kandang warga, memastikan aman dari pohon tumbang maupun luapan air,” katanya.

Selain itu, patroli dialogis juga ditingkatkan. Petugas aktif mengingatkan warga agar tidak melepasliarkan ternaknya di jalan raya yang licin dan minim pandangan, demi mencegah kecelakaan lalu lintas.

Wilayah dengan karakteristik jauh dari permukiman dan minim penerangan menjadi atensi khusus kepolisian. Amirudin menyebut, daerah sentra peternakan di pinggiran yang sulit dipantau saat hujan telah dipetakan untuk pengamanan ekstra.

“Di titik-titik itu patroli kami intensifkan. Strateginya patroli sambang, anggota tidak hanya lewat, tetapi berhenti dan berdialog langsung dengan peternak,” ungkapnya.

Patroli malam atau Blue Light Patrol juga diperkuat dengan jam operasional yang disesuaikan pada waktu rawan, mulai tengah malam hingga menjelang subuh. Kehadiran polisi dengan lampu rotator menyala diharapkan mampu mengurungkan niat pelaku kejahatan.

Menurutnya, peran masyarakat tetap menjadi ujung tombak pencegahan. Polisi mendorong kembali pengaktifan siskamling dan penerapan pola kandang kumpul sebagai bentuk pengamanan kolektif.

“Kehadiran warga di pos ronda sangat efektif. Pencuri akan berpikir dua kali jika melihat masyarakat tetap siaga meski cuaca buruk,” katanya.

Ia juga mengimbau peternak untuk melakukan langkah mitigasi sederhana, seperti memangkas pohon rawan tumbang di sekitar kandang, memindahkan ternak dari lokasi rawan banjir, menyediakan penerangan yang cukup, serta tidak membiarkan ternak berkeliaran di jalan raya.

Sinergi antara Bhabinkamtibmas, kepala desa, dan kepala dusun turut diperkuat melalui pendataan kandang kumpul serta penyusunan jadwal ronda bergilir agar pengawasan berjalan selama 24 jam.

“Alhamdulillah, sepanjang tahun 2025 hingga awal 2026 ini tidak ada laporan kehilangan ternak. Ini menunjukkan upaya pencegahan berjalan efektif. Namun, kondisi ini bukan alasan untuk lengah, justru harus tetap waspada,” tutupnya.

Rekomendasi Berita