Esensi dan Keajaiban Perjalanan "Isra' dan Mi'raj"
- by Nanda Feriana
- Editor Ridhwan Zul
- 16 Jan 2026
- Lhokseumawe
RRI.CO.UD,Lhokseumawe - Setiap tanggal 27 Rajab umat muslim di seluruh dunia memperingati hari Isra' dan Mi'raj yang merupakan cikal bakal lahirnya perintah menjalankan shalat 5 waktu. Setiap tanggal ini pula Isra' Mi'raj harus diperingati dan ditadaburi esensinya, agar manusia bisa lebih meningkatkan keimanan dan ketaqwaannya. Hal ini disampaikan oleh Ustadz Fizki Zuhri, S.HI dalam Program Hijrah RRI Prosatu Lhokseumawe, Kamis,15 Januari 2026 kemarin.
Ada banyak pelajaran yang dapat diambil dari peringatan Isra' dan Mi'raj. Perjalanan rohani ribuan kilometer yang dilakukan Nabi Muhammad Saw menggunakan Buraq ini dimulai dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa hingga Sidratun Muntaha atau Langit ke tujuh.
Esensi utama Isra' dan Mi'raj adalah melihat peristiwa ini sebagai sebuah kekuasaan dan mukjizat yang diberikan kepada Nabi Muhammad Saw. Perjalanan tersebut terkesan irrasional (tidak masuk logika), tapi karena kekuasaan Allah maka tidak ada yang tidak mungkin dan semua menjadi rasional.
"Isra' dan Mi'raj adalah fenomena menabjubkan yang merupakan kejadian nyata bukanlah mimpi. Semua umat muslim wajib mempercayainya dan mengakui bahwa ini bagian dari kuasaNya Allah SWT," ujar Ustadz Fizki Zuhri yang merupakan Anggota Tastafi Lhokseumawe.
Perjalanan Isra' dan Mi'raj menurut Ustadz Fizki bahkan tidak bisa dijelaskan secara Sains karena melampaui kemampuan manusia dalam menalarnya. Betapa tidak, perjalanan ribuan kilometer tersebut dilakukan hanya dalam satu malam, bahkan hanya beberapa jam.
Dalam perjalanan Isra' dan Mi'raj ada banyak nilai-nilai yang terkandung di dalamnya yaitu tentang perintah mengingat Allah melalui Shalat.
Jumlah waktu shalat yang awalnya 50 waktu dan dipangkas menjadi 5 waktu merupakan bentuk kasih sayang dan hadiah dari Allah kepada hambaNya umat Nabi Muhammad Saw.
"Perintah tersebut bukanlah beban, melainkan hadiah. Dalam 24 jam waktu diberikan Allah, 12 jam harus dihabiskan dengan Shalat atau beribadah,itulah sebabnya diberikan waktu shalat 5 waktu," ungkap Ustadz Fizki yang juga merupakan Anggota Forthal Lhokseumawe.
Di akhir tausiahnya Ustadz Fizki menekankan bahwa peringatan Isra' Mi'raj harus terus diperingati agar setiap generasi mengetahui betapa luarbiasanya peristiwa tersebut.