Deteksi Dini Kunci Cegah Kecacatan Akibat Kusta

RRI.CO.ID,Kupang-Penyakit kusta atau lepra masih menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Berdasarkan data WHO tahun 2020, Indonesia menempati peringkat ketiga kasus kusta terbanyak di dunia.

Kusta, yang juga dikenal sebagai penyakit Morbus Hansen, adalah penyakit infeksi bakteri kronis yang disebabkan oleh Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang tiga bagian utama tubuh: kulit, saraf tepi, dan otot/tulang.

Menurut drh. Galuh Larasati, kusta bukanlah penyakit kutukan, melainkan masalah medis yang bisa dijelaskan secara ilmiah. Deteksi dini sangat krusial karena kusta bersifat kronis; gejalanya seringkali baru muncul 6 bulan hingga 5 tahun setelah terinfeksi.

Beberapa tanda-tanda yang perlu diwaspadai antara lain, muncul bercak kemerahan atau kecokelatan yang tidak gatal pada kulit, mati rasa ataukebas, dimana bercak tersebut tidak terasa sakit saat ditekan atau disentuh. Tanda lain adalah rasa kesemutan berlebih yang muncul berulang kali, terutama saat tubuh sedang lelah, dan terjadi penebalan kulit, yaitu munculnya bagian kulit yang menebal seperti jerawat besar atau keropeng yang kering namun sulit sembuh.

Jika tidak segera diobati, kusta dapat menyebabkan komplikasi permanen yang disebut sebagai "reaksi tipe 2", di antaranya, kecacatan fisik, seprti kelumpuhan saraf tepi yang menyebabkan jari-jari tangan atau kaki memendek atau putus sendiri (hand drop atau food drop), masalah penglihatan, dimana mnunculnya bercak putih di mata yang menyerupai katarak namun sebenarnya adalah kerusakan saraf mata akibat kusta.

Kusta juga dapat berdampak psikososial bagi penderitanya, karena penurunan produktivitas akibat cacat fisik seringkali memicu depresi berat pada pasien. Dokter Galuh mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa banyak pasien kusta meninggal bukan karena infeksinya, melainkan karena depresi akibat dikucilkan masyarakat.

Bakteri kusta menyukai lingkungan yang lembap, gelap, dan kurang sinar matahari. Oleh karena itu, langkah pencegahan utama adalah:

1. PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat): Menjaga imunitas tubuh agar bakteri tidak mudah berkembang.

2. Ventilasi Rumah yang Baik: Pastikan rumah mendapatkan sinar matahari yang cukup, karena bakteri kusta akan mati jika terpapar sinar matahari langsung selama 2 jam.

3. Dukungan Keluarga: Keluarga harus menjadi support system utama, membantu pasien mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan (Faskes) untuk rehabilitasi medis dan fisioterapi.

"Kusta bisa disembuhkan dan pasien tetap bisa produktif asalkan ditangani sejak dini," ujar drh. Galuh.

Ia menekankan agar masyarakat menghapus stigma negatif, karena pasien kusta yang menjalani pengobatan memiliki risiko penularan di bawah 10%, sehingga tidak perlu dikucilkan.

“Jika Anda atau orang sekitar mengalami gejala bercak kulit mati rasa yang tidak kunjung sembuh, segera hubungi Puskesmas atau dokter terdekat untuk pemeriksaan bakteriologis lebih lanjut. Jangan tunggu sampai cacat, karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati,” pungkasnya. (JR)

Rekomendasi Berita