Kepergian Marko Tinggalkan Jejak Besar Red Bull

KBRN, Kendari : Di mata generasi baru paddock F1, Helmut Marko sering kali hanya terlihat sebagai figur keras dari Red Bull—pria tua yang tak pernah menyaring ucapannya. Sosok yang membuat banyak orang memilih menjaga jarak.ko

Namun di balik kesan itu, Helmut Marko adalah pribadi yang dibentuk oleh pengalaman ekstrem, kehilangan, dan keteguhan untuk bertahan. Ia bukan sekadar manajer atau penasihat, melainkan mantan pembalap berbakat yang kariernya terhenti secara brutal.Tumbuh bersama Jochen Rindt, Helmut Marko terbiasa hidup tanpa perlindungan. Ia belajar sejak dini bahwa dunia balap—dan hidup—tidak memberi ruang bagi mereka yang rapuh. Prinsip itulah yang terus ia pegang hingga kelak memimpin program pembalap muda Red Bull.Cedera parah di GP Prancis 1972 merenggut masa depannya di F1, namun tidak memadamkan kecintaannya pada balap. Ia kembali, bukan sebagai pembalap, melainkan sebagai pembentuk juara.Helmut Marko memahami betul bahwa talenta saja tidak cukup. Mental baja, keberanian mengambil risiko, dan kesanggupan bangkit dari kegagalan adalah syarat mutlak. Karena itulah banyak pembalap tersingkir di bawah pengawasannya—dan hanya sedikit yang bertahan.Namun mereka yang lolos, menjadi legenda...Sebastian Vettel, dan Max Verstappen. Dua juara dunia yang lahir dari sistem tanpa kompromi. Di Red Bull, Helmut Marko bukan figur yang menenangkan. Ia tidak memeluk, tidak memanjakan, ia menguji, ia mendorong hingga batas. Dan dari tekanan itulah, lahir prestasi.Kini, setelah puluhan tahun berada di garis depan, Helmut Marko memilih mundur. Red Bull Racing telah menjadi raksasa Formula 1, dan kontribusinya tak terpisahkan dari perjalanan itu. Waktu memang terus berjalan. Namun jejak Helmut Marko—dengan segala keras kepala, kejujuran, dan keberaniannya—akan selalu menjadi bagian penting dari sejarah Formula 1 modern.

Rekomendasi Berita