Lewis Hamilton: Karier Gemilang dan Suara untuk Kesetaraan

KBRN, Jember: Sir Lewis Hamilton bukan hanya pembalap tersukses dalam sejarah Formula 1, tetapi juga sosok penting dalam perjuangan kesetaraan ras dan keberagaman di dunia olahraga. Dengan tujuh gelar juara dunia dan lebih dari 100 kemenangan Grand Prix, warisan Hamilton melampaui lintasan balap. Seperti dikutip dari Black History Month UK, Hamilton pernah menyatakan bahwa jika ia mampu membawa perubahan nyata bagi kesetaraan, hal itu akan menjadi pencapaian paling berharga dalam hidupnya.

Lahir pada 1985 di Stevenage, Hertfordshire, perjalanan Hamilton menuju puncak Formula 1 jauh dari kata mudah. Ia tumbuh dalam keluarga kelas pekerja, dengan sang ayah, Anthony Hamilton, bekerja di berbagai pekerjaan untuk membiayai karier

karting putranya. Menurut Black History Month UK, Hamilton tidak memiliki privilese finansial atau koneksi kuat di dunia balap, tetapi ia memiliki dukungan keluarga, kerja keras, dan keyakinan bahwa ia mampu bersaing di level tertinggi.

Hamilton mencatat sejarah sebagai pembalap kulit hitam pertama yang berlaga di Formula 1. Dalam olahraga yang lama didominasi struktur elite dan tradisi eksklusif, kehadirannya menjadi bentuk perlawanan terhadap status

quo. Debutnya bersama McLaren pada 2007 langsung mencuri perhatian ketika ia finis ketiga di klasemen akhir musim. Setahun kemudian, pada 2008, Hamilton meraih gelar juara dunia pertamanya dan menjadi juara dunia termuda saat itu, sebuah pencapaian yang menegaskan bahwa ia layak berada di puncak Formula 1.

Kesuksesan tersebut menjadi awal dominasi panjang. Hamilton kemudian meraih enam gelar dunia tambahan pada 2014, 2015, 2017, 2018, 2019, dan 2020. Dengan total tujuh gelar juara dunia, lebih dari 100 kemenangan Grand Prix, serta 101

pole position, ia melampaui banyak rekor yang sebelumnya dianggap tak tersentuh. Black History Month UK mencatat bahwa Hamilton tidak hanya menyamai rekor Michael Schumacher dalam jumlah gelar, tetapi juga melampauinya dalam jumlah kemenangan dan statistik kunci lainnya.

Lebih dari sekadar angka, konsistensi Hamilton terlihat dari lebih dari 200 podium yang ia raih sepanjang kariernya. Statistik tersebut mencerminkan ketangguhan, ketekunan, dan kemampuan untuk tampil di level tertinggi dalam jangka waktu panjang. Bagi banyak pengamat, capaian ini menandai satu era tersendiri dalam sejarah Formula 1, Hamilton menjadi tolok ukur keunggulan.

Pengaruh Hamilton semakin terasa di luar lintasan balap. Pada 2020, ketika gerakan Black Lives Matter menggema secara global, Hamilton menjadi pembalap Formula 1 pertama yang secara terbuka dan konsisten menyuarakan isu rasisme dan ketidakadilan sistemik. Ia berlutut sebelum balapan, mengenakan kaus bertuliskan Black Lives Matter, dan mendesak Formula 1 untuk tidak tinggal diam. Menurut Black History Month UK, sikap ini menjadikan aktivisme sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Hamilton.Komitmen tersebut diwujudkan lebih jauh melalui pendirian Hamilton Commission pada 2020. Inisiatif ini bertujuan meningkatkan representasi masyarakat kulit hitam di

motorsport Inggris, khususnya di bidang teknik dan balap. Komisi ini menjadi langkah konkret untuk membuka akses dan menghapus hambatan struktural yang selama ini membatasi keberagaman di dunia balap.Pada 2024, Hamilton kembali membuat keputusan besar dengan meninggalkan Mercedes dan bergabung dengan Ferrari. Langkah ini menandai babak baru dalam kariernya. Bergabung dengan tim paling ikonik dalam sejarah Formula 1, Hamilton dihadapkan pada tantangan untuk mengembalikan Ferrari ke puncak persaingan. Keputusan ini bukan semata soal menambah gelar, tetapi tentang keberanian menghadapi tantangan baru dan terus berkembang sebagai atlet dan pemimpin.Warisan Hamilton tidak hanya diukur dari trofi dan rekor, tetapi juga dari dampak sosial yang ia tinggalkan. Ia telah membuka jalan bagi generasi pembalap kulit hitam berikutnya, menggunakan ketenarannya untuk mendorong kesetaraan, dan menegaskan bahwa kesuksesan sejati berarti memberdayakan orang lain. Pada 2020, Hamilton dianugerahi gelar kebangsawanan (knighthood) atas jasanya di dunia motorsport dan perjuangannya dalam isu keberagaman, sebuah pengakuan atas kontribusinya di dalam dan luar lintasan.


Rekomendasi Berita