Peran Luminol dalam Menguak Jejak Kejahatan
- by DYAKSA ANGGALOKA MUISCADAFIA
- Editor Sumarsono
- 20 Jan 2026
- Jember
RRI.CO.ID, Jember - Keberadaan darah dalam penyelidikan pada tempat kejadian perkara (TKP), sering kali menjadi petunjuk penting untuk mengungkap kasus kejahatan, khususnya yang dilakukan terhadap manusia. Meski darah kerap terlihat jelas, tidak sedikit situasi dengan jejak darah sudah memudar, dibersihkan, atau tersembunyi di permukaan tertentu. Untuk kondisi inilah, penyidik forensik memanfaatkan zat kimia bernama luminol.
Menurut penjelasan Douglas Elliot dalam publikasi
ebsco.com, luminol merupakan senyawa kimia yang banyak digunakan dalam uji pendahuluan atau uji nonspesifik untuk mendeteksi darah di TKP. Zat ini berfungsi membantu penyidik memvisualisasikan noda darah laten, yakni noda yang tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Luminol bekerja dengan cara bereaksi terhadap hemoglobin dalam darah, yang kemudian memicu proses oksidasi dan menghasilkan cahaya biru keputihan yang bersifat sementara.Dalam praktiknya, luminol sangat berguna ketika darah berada di permukaan gelap atau bermotif, telah diencerkan oleh air hujan, terinjak lalu lintas manusia, atau sengaja dibersihkan untuk menghilangkan jejak kejahatan. Sensitivitas luminol tergolong tinggi, bahkan mampu mendeteksi darah yang telah mengalami pengenceran ekstrem.
Pemeriksaan menggunakan luminol biasanya dilakukan dalam kondisi minim cahaya. Untuk TKP luar ruangan, penyidik menunggu hingga malam hari dan mematikan sumber cahaya di sekitar lokasi. Sementara pada TKP dalam ruangan, jendela dan pintu ditutup dengan plastik hitam agar tidak ada cahaya yang masuk. Setelah mata penyidik menyesuaikan diri dengan gelap, larutan luminol disemprotkan ke area yang dicurigai, lalu kilauan cahaya diamati dan didokumentasikan, baik melalui foto maupun catatan tertulis.Meski efektif, penggunaan luminol tidak bisa dilakukan sembarangan. Elliot menegaskan bahwa penyemprotan luminol dapat merusak pola percikan darah, termasuk jejak sepatu atau pola seretan, sehingga pemeriksaan visual dan pengambilan sampel darah untuk analisis DNA sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum luminol diaplikasikan. Selain itu, cairan luminol juga berpotensi mengganggu keberadaan barang bukti mikro lainnya.Perlu kehati-hatian pula dalam menafsirkan hasil uji luminol. Sebagai tes nonspesifik, luminol dapat bereaksi dengan zat lain selain darah, seperti pemutih, karat, atau jenis cat tertentu. Meskipun karakter cahaya yang dihasilkan berbeda dengan reaksi darah, penyidik tetap harus melakukan analisis lanjutan agar tidak terjadi kesalahan interpretasi.Dengan segala keterbatasannya, luminol tetap menjadi alat penting dalam dunia forensik modern. Keberadaannya membantu membuka kembali jejak kejahatan yang nyaris tak terlihat, sekaligus menegaskan bahwa ketelitian prosedur dan dokumentasi tetap menjadi kunci utama dalam mengungkap kebenaran di balik sebuah peristiwa kriminal.