Pejabat Iran Akui 5.000 Meninggal dalam Protes Nasional
- by Wilda Arifati
- Editor Rini Hairani
- 20 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
RRI.CO.ID, Tehran — Seorang pejabat Iran menyatakan sedikitnya 5.000 orang meninggal dalam protes nasional yang pecah pada akhir tahun lalu. Peristiwa ini disebut sebagai salah satu penindakan paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.
Pernyataan itu disampaikan kepada Reuters dengan syarat anonim karena isu tersebut dinilai sangat sensitif. Pejabat tersebut menyebut sekitar 500 anggota aparat keamanan Iran termasuk di antara para korban meninggal, dilansir dari Daily Sabah, Selasa, 20 Januari 2026.
Menurut pejabat tersebut, sebagian besar kematian warga sipil disebabkan oleh apa yang ia sebut sebagai teroris dan perusuh bersenjata. Mereka dituduh dengan sengaja menargetkan warga tidak bersalah selama berminggu-minggu kerusuhan.
Bentrokan paling parah terjadi di wilayah barat laut Iran yang mayoritas penduduknya merupakan etnis Kurdi. Wilayah tersebut merupakan kawasan yang selama ini dikenal rawan konflik dan kerap menghadapi respons keamanan yang keras.
Pemerintah Iran menyatakan tidak memperkirakan jumlah korban meninggal akan meningkat secara signifikan dan menilai situasi kini sebagian besar telah terkendali. Otoritas juga menuding kelompok bersenjata yang beroperasi di luar negeri berada di balik dukungan terhadap para pengunjuk rasa.
Namun, kelompok hak asasi manusia internasional membantah versi pemerintah tersebut.
Human Rights Activists News Agency (HRANA) melaporkan telah mengonfirmasi 3.308 kematian terkait aksi protes tersebut.Selain itu, ribuan kasus kematian masih dalam proses verifikasi dan lebih dari 24.000 orang dilaporkan ditangkap di seluruh Iran. Organisasi hak asasi Kurdi Hengaw melaporkan wilayah-wilayah Kurdi dalam pengamanan ketat selama protes, termasuk penerapan jam malam dan pengerahan militer.
Kerusuhan ini dipicu oleh anjloknya nilai rial Iran yang semakin memperparah krisis ekonomi, inflasi, dan pengangguran. Situasi tersebut kemudian berkembang menjadi gelombang protes luas terhadap kepemimpinan politik Iran.