Korban Meninggal Aksi Protes Iran Bertambah Menjadi 3.428
- by Wilda Arifati
- Editor Tegar
- 15 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Jakarta: Sedikitnya 3.428 pengunjuk rasa dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan Iran dalam gelombang demonstrasi nasional. Angka tersebut dilaporkan oleh lembaga nonpemerintah Iran Human Rights (IHR), dilansir dari Euro News, Kamis (15/1/2026).
Selain korban jiwa, lebih dari 10.000 orang juga dilaporkan ditangkap sejak protes pecah. Sebagian besar kematian terjadi pada puncak aksi antara 8 hingga 12 Januari berdasarkan informasi terbaru dari kementerian kesehatan dan pendidikan Iran.
Direktur IHR, Mahmood Amiry-Moghaddam, memperingatkan otoritas Iran kini mengancam akan melakukan eksekusi dalam skala besar terhadap para demonstran. Ia mendesak komunitas internasional untuk menanggapi ancaman tersebut secara serius.
Amiry-Moghaddam juga mengingatkan bahwa pemerintah Iran pernah melakukan kejahatan serupa pada dekade 1980-an demi mempertahankan kekuasaan. Peringatan tersebut muncul setelah kepala lembaga peradilan Iran mengisyaratkan rencana menggelar persidangan cepat terhadap para tersangka.
Ia juga menyebut kemungkinan pelaksanaan eksekusi bagi mereka yang ditahan dalam aksi protes. Ia menekankan, tindakan harus dilakukan secepat mungkin agar memberikan efek jera, meski pernyataan tersebut memicu kecaman luas dari luar negeri.
Aksi demonstrasi di Iran bermula pada 28 Desember. Aksi tersebut dipicu anjloknya nilai tukar rial dan memburuknya kondisi ekonomi akibat sanksi internasional yang sebagian terkait dengan program nuklir Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali memperingatkan kemungkinan aksi militer. Peringatan itu disampaikan jika pembunuhan terhadap para demonstran di Iran terus berlanjut.
Kecaman internasional pun menguat. Para menteri luar negeri negara-negara G7 menyatakan keprihatinan mendalam atas tingkat kematian dan luka-luka yang dilaporkan.
Mereka mengecam penggunaan kekerasan, penahanan sewenang-wenang, serta intimidasi terhadap demonstran. Mereka juga mendesak otoritas Iran untuk menahan diri serta menghormati hak asasi manusia, termasuk kebebasan berekspresi dan berkumpul secara damai.
Di dalam negeri, suasana duka dan ketegangan masih terasa. Upacara pemakaman massal digelar bagi sekitar 100 anggota aparat keamanan yang meninggal dalam kerusuhan.
Upacara tersebut dihadiri puluhan ribu pelayat dengan peti jenazah berbalut bendera Iran. Meski aparat antihuru-hara dilaporkan telah kembali ke barak, kehadiran pasukan berpakaian sipil di sejumlah kawasan membuat warga tetap diliputi ketakutan.
Situasi tersebut diperparah dengan penutupan sekolah-sekolah di berbagai wilayah. Banyak orang tua mengaku ragu untuk mengirim anak-anak mereka kembali ke sekolah karena alasan keamanan.