Buntut Ketegangan dengan AS, Iran Tutup Wilayah Udara
- by Wilda Arifati
- Editor Syahrizal Budi Putranto
- 15 Jan 2026
- Pusat Pemberitaan
KBRN, Teheran: Iran menutup wilayah udaranya untuk penerbangan komersial selama beberapa jam pada Kamis (15/1/2026) dini hari tanpa memberikan penjelasan. Hal ini dilakukan di tengah ketegangan yang tetap tinggi antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
Wilayah udara yang ditutup merupakan jalur penerbangan utama antara Timur dan Barat. Akibatnya sejumlah maskapai penerbangan internasional sempat mengalihkan rute ke selatan dan utara Iran.
Hingga akhirnya pada sekitar tengah hari Otoritas Penerbangan Sipil Iran menyatakan pembukaan kembali wilayah udara tersebut. Namun, tidak dijelaskan soal penutupan tersebut beserta apa alasannya.
"Sejumlah maskapai sempat mengurangi atau menangguhkan pelayanan," kata laman SafeAirspace seperti dikutip AP News, Kamis (15/1/2025). Bahkan sebagian besar maskapai sampai menghindari wilayah udara Iran.
Menurut situs pemantau keselamatan penerbangan itu, situasi tersebut mengindikasikan adanya kegiatan keamanan atau militer di Iran seperti peluncuran rudal. "Hal ini meningkatkan risiko kesalahan identifikasi pada lalu lintas sipil," katanya.
Penutupan wilayah udara itu berlangsung setelah sejumlah personel di pangkalan militer AS di Qatar diimbau untuk dievakuasi. Sedangkan Kedutaan Besar AS di Kuwait memerintahkan stafnya untuk menunda perjalanan ke pangkalan militer AS di sana.
Presiden AS, Donald Trump, justru menyampaikan pernyataan yang tidak menjelaskan apa yang dilakukannya terhadap Iran. "Saya sudah menerima laporan bahwa rencana eksekusi terhadap para aktivis penggerak aksi protes di Iran sudah dihentikan," ujarnya.
Hal ini berbanding terbalik dengan pernyataan Trump sebelumnya yang mendukung para penggerak aksi protes di Iran. "Pertolongan akan datang dan kami akan bertindak sesuai perkembangan," ujarnya saat itu.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran, Abbas Araghchi, berupaya meredakan ketegangan dengan menyerukan penyelesaian melalui jalur diplomasi. "Ini jalan terbaik meski kami tidak punya pengalaman positif dengan Washington," ujarnya.