RRI.CO.ID, ENDE - Seni hena berkembang menjadi bahasa ekspresi baru bagi generasi muda. Tangan berubah menjadi kanvas, menyimpan cerita budaya, estetika, dan identitas.
Di berbagai kota, layanan hena hadir pada pesta, wisuda, festival, hingga pernikahan. Pilihan warna menjadi simbol kepribadian sekaligus penentu kesan pada momen penting.
Hal tersebut diperjelas Wulan, pengukir inai yang menekuni bisnis hena art selama tujuh tahun. Dalam Obrolan Muda Kreatif Pro 2 RRI, Rabu, 7 Januari 2026, ia memaparkan perbedaan mendasar keduanya yaitu :
Tekstur
Hena merah memiliki tekstur lebih kental dan padat sehingga mudah dikontrol. Sebaliknya, hena putih lebih cair dan licin saat diaplikasikan sehingga garis bisa melebar jika tidak dikerjakan dengan hati-hati.
Tampilan
Hena merah memberi kesan alami, hangat, dan tradisional dengan warnanya yang menyatu dikulit. Sedangkan hena putih menampilkan kesan modern, glamor, dan kontras dengan warnanya yang terang dan menonjol sehingga terlihat seperti aksesori atau perhiasan tubuh.
Ketahanan
Hena merah dapat bertahan sekitar 3 hingga 5 hari bahkan pada beberapa jenis kulit bisa lebih lama. Sementara itu, hena putih hanya menempel di permukaan kulit dan ketahanannya hanya beberapa jam saja.
Walaupun terdapat beberapa perbedaan, semua itu tergantung pada konsumen. Karna menurut Wulan selera setiap orang berbeda tergantung kebutuhan.
“Biasanya banyak orang yang memakai hena putih untuk akad nikah. Kemudian memakai hena merah untuk resepsi atau pesta pernikahannya,” Kata Wulan
Cerita ini menunjukkan seni hena bukan sekadar tren, tetapi ruang bertemunya kreativitas dan kebutuhan. Dengan memahami perbedaan, masyarakat dapat memilih dengan bijak dan menghargai karya seniman.