RSOMH Bukittinggi Perkuat Mutu Layanan Lewat Clinical Pathway

RRI.CO.ID,Bukittinggi - Rumah Sakit Otak DR. Drs. Mohammad Hatta (RSOMH) Bukittinggi 20 - 21 Januari 2026 menggelar Pelatihan Clinical Pathway (CP) bertempat di Grand Rocky Hotel Bukittinggi.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kendali mutu dan kendali biaya pelayanan kesehatan yang berdampak langsung pada pembayaran klaim BPJS Kesehatan.

Pelatihan ini menekankan pentingnya penyusunan Clinical Pathway (CP) secara komprehensif dengan mempersiapkan komponen Asuhan Medis, Asuhan Keperawatan, Asuhan Nutrisi, Asuhan Farmasi, serta Pelayanan Administrasi.

Seluruh komponen tersebut harus terintegrasi dan berfokus pada pasien sebagai prinsip dasar penyusunan CP.

Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSOMH Bukittinggi Zaineti.,SKM,MM, secara resmi membuka kegiatan pelatihan yang diikuti oleh 10 CP Spesialis dengan menghadirkan narasumber nasional Dr. Djoni Darmadjaja, SpB, MARS, FISQua, MQM, CHAE, Kepala Bidang IT Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS).

CP merupakan instrumen penting dalam meningkatkan kualitas layanan sekaligus efisiensi pembiayaan rumah sakit.

Dalam pemaparannya, Dr. Djoni menyampaikan bahwa secara teori Clinical Pathway hanya mencakup sekitar 30 persen penyakit yang ditangani di rumah sakit.

“Dalam melihat Clinical Pathway, kita harus memahami

journey atau perjalanan pasien sejak masuk hingga selesai mendapatkan pelayanan,”ujar Dr. Djoni.

Ia juga menyoroti bahwa belum semua dokter sepenuhnya menjalankan ketentuan CP dalam menghasilkan outcome klinis.

Di Indonesia, outcome klinis sendiri memuat 15 poin penilaian, yang menurutnya belum optimal bukan karena konsep CP yang keliru, melainkan karena pelaksanaannya yang belum dilakukan secara konsisten dan menyeluruh.

Clinical Pathway menuntut keterlibatan semua profesional pemberi pelayanan, mulai dari dokter, perawat, bidan, farmasis, nutrisionis, hingga fisioterapis.

Selain itu, CP mengatur waktu pelaksanaan pelayanan, mewajibkan seluruh kegiatan dicatat dalam rekam medis, serta mengharuskan setiap penyimpangan dari rencana dicatat sebagai varians.

Melalui pelatihan ini, RSOMH Bukittinggi berharap implementasi Clinical Pathway dapat berjalan lebih optimal, terintegrasi, dan berorientasi pada mutu pelayanan serta keberlanjutan pembiayaan rumah sakit,"tutupnya. (JM/RRI BKT)

Rekomendasi Berita