Usus Buntu Terjadi Akibat Sumbatan, Bukan Mi Instan

  • by
  • Editor Nasrudin Jahari
  • 19 Jan 2026
  • Banten

RRI.CO.ID, Serang: Anggapan bahwa mi instan dan biji-bijian menjadi penyebab radang usus buntu (

appendicitis) masih kerap berkembang di masyarakat. Padahal secara medis, radang usus buntu terjadi akibat sumbatan pada saluran usus, bukan semata karena jenis makanan.

Dokter Spesialis Bedah dan Konsultan Bedah Saluran Cerna, Felmond Limanu, menjelaskan usus buntu bermula dari kondisi tersumbat. “Sumbatan bisa disebabkan oleh fekalit atau batu

feses, lipatan usus buntu, hingga adanya tumor sebelumnya,” ujarnya dalam siniar Kata Dokter berjudul Hati-Hati! Sakit Perut Bisa Jadi Gejala Usus Buntu, dikutip Senin 19 Januari 2026.

Ia menerangkan sumbatan tersebut menyebabkan cairan di dalam usus buntu tidak dapat keluar secara normal. Seiring waktu, kondisi tersebut memicu pertumbuhan bakteri hingga menyebabkan infeksi dan pembentukan nanah.

Apabila infeksi tersebut tidak segera ditangani, maka tekanan di dalam usus buntu akan terus meningkat. Akibatnya, dinding usus buntu berisiko pecah dan menyebabkan infeksi menyebar ke rongga perut.

Terkait anggapan biji-bijian sebagai pemicu radang usus buntu, Felmond menilai hal tersebut kurang tepat secara medis. “Ukuran biji-bijian relatif kecil sehingga sangat kecil kemungkinannya menyumbat usus buntu,” katanya.

Sementara itu, mi instan juga tidak secara langsung menyebabkan radang usus buntu. Namun demikian, konsumsi mi instan secara berlebihan tetap perlu diwaspadai karena tetap dapat berdampak pada kesehatan saluran pencernaan.

Menurut Felmond, kandungan minyak, lemak jenuh, natrium, MSG, dan pengawet tidak memicu appendicitis secara langsung. Akan tetapi, konsumsi berlebihan berpotensi memicu gangguan pencernaan di lambung dan usus besar seperti begah, sembelit, hingga iritasi.

Selain itu, beberapa pengawet membuat mi instan sulit terurai di sistem pencernaan. Sehingga, Kondisi ini memaksa lambung bekerja lebih keras dan memperburuk kesehatan pencernaan jangka panjang meskipun tidak secara langsung menyebabkan usus buntu.

Oleh karena itu, penyebab usus buntu tidak dapat disederhanakan hanya pada jenis makanannya. Faktor sumbatan, proses infeksi, serta kondisi kesehatan saluran cerna secara menyeluruh justru memiliki peran yang jauh lebih dominan.

Felmond pun menyarankan masyarakat untuk menjaga pola makan seimbang dengan asupan serat yang cukup. Langkah ini dinilai penting guna mendukung fungsi pencernaan dan menekan risiko gangguan pada saluran cerna.

Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat diharapkan tidak lagi salah kaprah mengenai penyebab usus buntu. Edukasi kesehatan menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan serta penanganan dini penyakit tersebut.


Rekomendasi Berita