Banyak Kios Tutup, Diky: Revitalisasi Cikurubuk Harus Dilakukan

KBRN, Tasikmalaya : Berdasarkan data UPTD Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, hampir 1000 kios dan los di pasar setempat tutup. Sekira 30 persen kios yang tutup berada di Blok- B 2, yang merupakan pedagang pakaian dan sandal.

Menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Tasikmalaya Diky Chandra mengatakan, hal ini akan menjadi perhatian serius pemerintah kota.”kami belum mengetahui secara pasti penyebabnya. Tetapi berdasar informasi yang ada, banyak faktor yang menyebabkan. Mulai dari infrastruktur, persaingan dagang dengan toko online, hingga permasalahan lain,” katanya, Minggu, 18 Januari 2026.

Dengan kondisi demikian, pihaknya kata Diky, segera melakukan evaluasi menyeluruh. “ iya evaluasi harus segera dilakukan. Kami harus membahas ini dalam FGD yang tentunya melibatkan berbagai pihak, termasuk pedagang,” ujarnya.


Baca juga:

Babakan Ciparay Percepatan Rutilahu dan Buruan Sae


Selain lanjut Diky, upaya perbaikan infrastruktur berbasis kenyaman konsumen harus segera dijalankan. Termasuk untuk meningkatkan daya saing, pedagang harus mendapat pelatihan pemasaran online.

“Untuk meningkatkan daya saing, pelatihan atau pembuatan pasar online cikurubuk tasik harus dimulai. Termasuk memikirkan pola promosi yang tepat untuk segera dirancang,” katanya.

Sementara sebelumnya Budi salah seorang pedagang di blok B- 2 mengaku, di bloknya dari 200 pedagang, yang masih bertahan berjualan tinggal 50 kios. Itu pun tidak setiap hari buka.

“Iya ada yang belum tutup permanen. Tapi itu, kadang buka kadang tutup, termasuk saya,” kata pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 1995 di Pasar Cikurubuk.

Ia mengatakan, sepinya pembeli di kios pedagang, terjadi setelah adanya toko- toko besar yang menjual pakaian di luar komplek pasar. Selain itu beban pedagang di tengah kondisi persaingan, adalah tingginya retribusi.

“Dengan kondisi saat ini, itu berat bagi kami. Itu pun tidak diimbangi dengan penataan pasar. Parkir semrawut, dan fasilitas lainnya yang menyebabkan pembeli enggan datang kesini,” katanya.

Maka Ia berharap, pemerintah serius menata kondisi pasar. Termasuk mengatur keberadaan toko besar (grosir), yang juga menjual barang secara eceran.

“Kami minta ini diatur, agar pasar nyaman. Kemudian kaki lima juga ditata, retribusi juga, termasuk keberadaan grosir yang berjualan eceran. Kalau bisa itu juga diatur, apalagi tokonya berada di lingkungan pasar. Ini mematikan usaha kami,” katanya.

Rekomendasi Berita