Ratusan Kios Pedagang Pakaian Pasar Cikurubuk Tutup Permanen
- by Nova Nugraha
- Editor Didi Mainaki
- 17 Jan 2026
- Bandung
RRI.CO.ID, Tasikmalaya - Sekitar 30 persen pedagang pakaian dan sandal di Pasar Cikurubuk, Kota Tasikmalaya Tutup. Berbagai faktor mulai dari daya beli masyarakat, persaingan dengan toko online, infrastruktur pasar, dan retribusi yang tinggi, ditengarai menjadi penyebab pedagang menutup kiosnya secara permanen.
Kepala UPTD Pasar Cikurubuk Kota Tasikmalaya, Deri Herlisana mengatakan, Pasar Cikurubuk mempunyai luas 4,4 hektar, dengan 2772 kios dan loss.
" Iya betul ada 1000 pedagang sudah tutup,” katanya, Sabtu, 17 Januari 2026.
Ia mengatakan, mayoritas pedagang yang menutup kiosnya berada di blok B- 2. Blok ini, mayoritas diisi oleh pedagang pakaian dan sandal. "Kalau dipresentasikan yang tutup ada sekitar 30 persen kios dan loss," ucap Deri.
Terkait dengan kenaikan retribusi yang disebut - sebut menjadi salah satu penyebab banyaknya pedagang yang tutup, menurutnya, hal itu bukan karena retribusi yang memberatkan para pedagang pasar Cikurubuk.
" Sesuai perda nomor 1 tahun 2024 itu kan kenaikan tarif dari jumlah menghadap jalan 300 rupiah menjadi 500 rupiah per meter. Sekira Rp 200 ribu per bulan. Itu pun sesuai ukuran kios nya," kata Deri.
Baca juga :
Keterlibatan Pontren Penting dalam Menciptakan Keamanan dan KedamaianIa mengatakan, banyak faktor yang membuat sejumlah pedagang tutup permanen. "Sebenarnya banyak faktor. Apalagi yang ke pasar tradisional itu jarang sekali yang masih muda termasuk persaingan dengan toko yang berada di luar pasar," ujarnya.
Untuk terus meningkatkan kunjungan ke Cikurubuk, pihaknya berencana melakukan penataan pedagang supaya tidak terlihat kumuh. Saat ini, untuk pembangunan fasilitas umum dan masih berproses.
"Rencana penataan ada untuk di tahun 2026," katanya.
Sementara itu, Budi, salah seorang pedagang di blok B- 2 mengaku, di bloknya dari 200 pedagang, dan yang masih bertahan berjualan tinggal sekira 50 kios. Itu pun tidak setiap hari buka.
“Iya ada yang belum tutup permanen. Tapi itu, kadang buka kadang tutup, termasuk saya,” kata pedagang yang sudah berjualan sejak tahun 1995 di Pasar Cikurubuk.
Ia mengatakan, sepinya pembeli di kios pedagang, terjadi setelah adanya toko- toko besar yang menjual pakaian di luar komplek pasar. Selain itu beban pedagang di tengah kondisi persaingan, adalah tingginya retribusi.
“Dengan kondisi saat ini, itu berat bagi kami. Itu pun tidak diimbangi dengan penataan pasar. Parkir semrawut, dan fasilitas lainnya yang menyebabkan pembeli enggan datang kesini,” katanya.
Maka Ia berharap, pemerintah serius menata kondisi pasar. Termasuk mengatur keberadaan toko besar (grosir), yang juga menjual barang eceran.
“Kami minta ini diatur, agar pasar nyaman. Kemudian kaki lima juga ditata, retribusi juga, termasuk keberadaan grosir yang berjualan eceran. Kalau bisa itu juga diatur, apalagi tokonya berada di lingkungan pasar. Ini mematikan usaha kami,” katanya.