Waspada “Super Flu”, Ini Faktanya

RRI.CO.ID, Manado - Isu mengenai “super flu” kembali ramai diperbincangkan di awal 2026 dan memicu kekhawatiran masyarakat. Kementerian Kesehatan menegaskan pentingnya pemahaman yang tepat agar masyarakat tetap waspada tanpa perlu panik.

Dokter spesialis paru konsultan RS Persahabatan, Prof. Dr. Dr. Erlina Burhan, menjelaskan bahwa istilah super flu tidak dikenal dalam dunia medis. “Secara medis, yang disebut super flu itu sebenarnya adalah influenza A,” ujarnya dalam Talkshow Keluarga Sehat Kemenkes 14 Januari 2026. Menurutnya, istilah tersebut muncul karena adanya peningkatan kasus di beberapa negara, kata Prof. Erlina.

Ia menjelaskan influenza A memiliki banyak varian yang dapat bermutasi secara alami. Salah satu yang banyak dibicarakan adalah varian H3N2 yang mengalami mutasi pada subclade tertentu. “Mutasi ini bisa menyebabkan gejala terasa lebih berat pada sebagian orang, terutama kelompok rentan,” ujarnya.

Gejala influenza tersebut pada dasarnya mirip dengan flu musiman. Demam, batuk, pilek, nyeri tenggorokan, hingga nyeri otot masih menjadi keluhan utama yang paling sering muncul. Namun pada lansia, anak kecil, ibu hamil, dan penderita penyakit penyerta, gejalanya bisa berkembang lebih berat.

Prof. Erlina menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana yang kembali relevan pascapandemi. “Jika batuk dan pilek, gunakan masker agar tidak menularkan ke orang lain,” katanya. Ia juga mengingatkan pentingnya istirahat cukup, asupan cairan, serta menjaga daya tahan tubuh.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan jika gejala tidak membaik setelah tiga hingga empat hari. Edukasi yang tepat diharapkan mampu membantu masyarakat menghadapi isu super flu secara rasional dan berbasis informasi kesehatan yang benar.

Rekomendasi Berita