Prinsip Tegas Verstappen jika Menjadi Bos F1
- by Kasembadan Putro Yuda Sihwidianto
- Editor Gafar
- 14 Jan 2026
- Kendari
RRI.CO.ID, Kendari - Max Verstappen menegaskan bahwa menyatukan dua pembalap muda terbaik dalam satu tim Formula 1 bukanlah strategi yang bijak. Menurut juara dunia empat kali tersebut, pendekatan semacam itu justru berisiko memicu konflik internal dan mengancam stabilitas jangka panjang sebuah tim.
Berbicara dalam Pelas Pistas Podcast bersama Gabriel Bortoleto, Max Verstappen menilai bahwa kombinasi pembalap muda dan senior, seperti yang diterapkan Audi dengan memasangkan Gabriel Bortoleto bersama Nico Hulkenberg, jauh lebih masuk akal dibandingkan menyatukan dua talenta yang sama-sama berada di puncak performa.
Ia mencontohkan bahwa dalam sejarah Formula 1, pasangan pembalap yang paling sukses dalam perebutan gelar biasanya memiliki keseimbangan peran, bukan rivalitas langsung di dalam satu garasi. “Tekanan internal yang berlebihan bukan sesuatu yang diinginkan tim,” ujar Verstappen. “Jika dua pembalap seusia dan sama-sama ingin menjadi nomor satu, itu akan menciptakan gesekan yang sulit dikendalikan.” Max Verstappen lalu membandingkan pendekatan tersebut dengan strategi Real Madrid dalam sepak bola. Meski mengaku sebagai pendukung Barcelona, ia memuji cara Madrid menjaga regenerasi skuad.
“Mereka selalu menyiapkan pemain muda untuk menggantikan pemain senior yang mendekati akhir karier. Transisinya mulus, dan tim tidak kehilangan arah,” jelasnya. Menurutnya, Formula 1 juga membutuhkan filosofi serupa: satu pembalap berpengalaman yang menjadi poros tim, sementara pembalap muda disiapkan sebagai penerus agar performa tim tetap konsisten. Max Verstappen memperingatkan bahwa memasangkan dua pembalap terbaik justru bisa menjadi bumerang. “Pada akhirnya mereka akan saling menjatuhkan. Meski awalnya terlihat sukses, situasi seperti itu hampir pasti berakhir dengan perpecahan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa konflik internal dapat menciptakan garasi yang terbelah dan mendorong kepergian figur-figur penting dalam tim. “Keberhasilan tidak akan bertahan lama jika fondasi internalnya rapuh,” ujarnya. Ketika ditanya tentang duet pembalap impian dari sepanjang sejarah F1, Max Verstappen menolak untuk menyebut nama tertentu. Ia menilai bahwa membandingkan lintas generasi tidak adil karena setiap era memiliki tantangan dan standar profesionalisme yang berbeda.
Namun demikian, ia mengaku tertarik untuk mengamati secara langsung momen-momen bersejarah, seperti era kejayaan Michael Schumacher bersama Ferrari atau persaingan sengit Ayrton Senna dan Alain Prost di McLaren. “Bukan untuk membandingkan siapa yang terbaik, tetapi untuk memahami bagaimana mereka bekerja, memimpin tim, dan menghadapi tekanan,” pungkas Verstappen. Kata Kunci / Tags
F1
F1 2026
F1 Race 2026
Balapan F1
Balapan F1 2026
Podcast F1
Podcast F1 2026
F1 Red Bull Racing Team
F1 Kick Sauber
F1 Audi
Red Bull Racing Team
Red Bull
Kick Sauber
Audi
Max Verstappen
Max
Verstappen
Gabriel Bortoleto
Gabriel
Bortoleto
World Champions
World Driver Champions
F1 World Champions
F1 WDC
Juara Dunia F1
Pembalap Juara Dunia F1
juara dunia
Pembalap Juara Dunia
Motorsports
Otosports
Sports
olahraga
Olahraga Balapan
balapan
#Podcast
2026