Merawat Persahabatan Indonesia-Rusia, Melalui Pentas Kesenian
- by Penta Maydita
- Editor Erik Hamzah
- 24 Jul 2025
- Jakarta
KBRN, Jakarta: Momen 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Rusia kali ini dirayakan dengan cara yang unik. Perayaan ini digelar melalui panggung arena kesenian Rusia di Studio Tari, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Kamis (24/7/2025).
Pementasan ini merupakan inisiatif dari Masyarakat Penggiat Seni Indonesia (MPSI). Mereka menggandeng Malenkij Russkij Teater (Malrus), kelompok teater independen yang mayoritas anggotanya adalah mahasiswa dan alumni Universitas Indonesia.
Acara tersebut juga mendapat dukungan dari Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Rusia. Para penampil menyuguhkan karya seni bertajuk Drusba: Dialog Rusia-Indonesia dalam Bahasa dan Budaya.
Di atas panggung yang sejajar dengan penonton, mereka membacakan puisi, teks drama, dan lagu-lagu Rusia. Semua itu menjadi bentuk ekspresi persahabatan kedua negara.
Hubungan Masyarakat MPSI, Narima Beryl Ivana, menyebut acara ini sebagai medium komunikasi lintas budaya berbasis kesenian. "Saya yakin kebudayaan adalah salah satu juga cara terbaik untuk menjaga hubungan antarnegara ataupun antarbangsa," kata Narima.
Ia juga menegaskan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan minatnya pada budaya lain. "Walaupun memiliki kesukaan yang berbeda, apa salahnya kalau didukung," ujarnya.

Para pemeran pembacaan teks drama dengan penjiwaan oleh Malenkij Russkij Teater, di Studio Tari, Taman Ismail Marzuki, Kamis (24/7/2025). (Foto: RRI/Setyo Agung)
Salah satu karya yang dipentaskan adalah adaptasi naskah drama dari novel karya Mikhail Bulgakov berjudul Master i Margarita atau Sang Guru dan Margarita. Ketua Malrus, Firman Djaya Ningrat, menyebut penyesuaian waktu latihan menjadi tantangan tersendiri.
Selain itu, Ia berharap pementasan ini dapat menjadi jembatan diplomasi budaya antara Indonesia dan Rusia. "Harapan saya dengan adanya Malenkij Russkij Teater ini bisa menjadi jembatan diplomasi kebudayaan antara Rusia dan Indonesia, khususnya di bidang pertunjukan," kata Firman.
Adapun para pemeran dalam pembacaan naskah itu ntara lain R. Firman Djaya Ningrat yang berperan sebagai Varenukha sekaligus bertindak sebagai sutradara, Azmita Putri Sherlian sebagai Hella, Afnan Aufa sebagai Korokiev, Narima Beryl Ivana sebagai Margarita, Muhammad Anargya sebagai Master, dan Rafi Danendra sebagai Woland. Peran pembawa acara dipegang oleh Latanza Qorina, sedangkan desain kostum ditangani oleh Raisa Cicely Nareswari.
Di akhir pertunjukan, para penampil dan penonton berdiskusi secara langsung. Mereka saling melempar pertanyaan seputar proses kreatif pementasan.
Penyelenggara dan para seniman sepakat bahwa kebudayaan dan kesenian adalah bahasa universal. Keduanya diyakini mampu memperkuat hubungan antarbangsa yang berbeda latar belakang.
(Setyo Agung-CPNS RRI Jakarta berkontribusi menulis laporan ini).