Media Publik Memiliki Peran Kunci Hadapi Krisis Iklim

KBRN, Jakarta: Media publik memiliki kekuatan besar dalam membentuk kesadaran dan respon masyarakat terhadap krisis iklim. Hal itu ditegaskan oleh Javad Mottaghi, pakar penyiaran publik internasional dari HEC Montreal, Kanada, dalam wawancara seusai gelar wicara bertajuk Suara untuk Alam yang diselenggarakan oleh Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) di Jakarta, Senin (30/6/2025).

Menanggapi pertanyaan tentang sikap media terhadap krisis iklim, Javad menyampaikan kekhawatirannya bila media mengabaikan isu ini. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam membentuk kesadaran masyarakat. Ia juga menyarankan agar semua pelaku industri media, termasuk media komersial dan digital, harus bisa berkolaborasi untuk mengabarkan kebenaran dan solusi atas krisis iklim.

“Saya pikir media publik bisa memainkan peran yang sangat penting, contoh saja saat COVID-19 melanda. Penyiaran publik terbukti bisa mendapatkan kepercayaan, ditengah banyaknya berita bohong tentang Covid-19 yang terjadi di hampir semua wilayah dengan cara menyajikan informasi yang akurat, terpercaya, dan bertanggung jawab," kata Javad.

Ia menambahkan, semua pihak yang terlibat dalam industri media harus bersatu untuk memberikan dampak yang lebih nyata dan luas. "Kita harus mengajak semua orang media, baik penyiaran publik, komersial, dan tak ketinggalan media digital, karena itu bisa menjangkau lebih banyak masyarakat luas,” ujarnya.

Pakar yang juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Aisa Pacific Broadcasting Union selama 13 tahun ini juga mengajak seluruh pihak untuk menerjemahkan perspektif global ke dalam aksi lokal sehingga bisa menjadi pelajaran bersama. “Media publik perlu melihat persepktif global dan menerjemahkannya ke dalam aksi lokal, apa yang dunia bisa lakukan dan apa yang kau bisa lakukan, apa yang bisa Indonesia lakukan, Asia dan Pasifik bisa lakukan, dan seterusnya," kata Javad, menutup sesi wawancara.

Suara untuk Alam adalah dialog yang diselenggarakan oleh LPP RRI bersama dengan Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan atau UNU-INWEH. Dialog ini menandai perjanjian kerjasama antara LPP RRI dengan UNU-INWEH dibidang pengembangan SDM, riset dan media terkait isu lingkungan dan krisis iklim.

(Setyo Agung Laksono-CPNS RRI Jakarta berkontribusi menyusun laporan ini).

Rekomendasi Berita