Cuaca Dingin Ekstrem di Gaza, Puluhan Pengungsi Meninggal

KBRN, Gaza: Sedikitnya 21 warga Palestina yang mengungsi di Jalur Gaza dilaporkan meninggal dunia akibat cuaca dingin ekstrem sejak dimulainya perang Israel. Sebagian besar korban mmeninggal merupakan anak-anak yang tinggal di kamp pengungsian, dilansir dari Anadolu, Rabu (14/1/2026).

Otoritas setempat menyebut situasi ini sebagai bencana kemanusiaan yang terus memburuk di tengah keterbatasan tempat tinggal dan bantuan. Pemerintah Gaza menyatakan para korban berasal dari keluarga yang tinggal di tenda dan tempat penampungan darurat.

Tenda dan tempat penampungan tersebut tidak mampu melindungi mereka dari suhu dingin musim dingin. Dari total korban meninggal, 18 di antaranya adalah anak-anak, termasuk bayi dan balita.

Mereka dinilai sebagai kelompok paling rentan karena hidup tanpa pemanas, insulasi, serta perlengkapan musim dingin yang memadai. Kasus terbaru adalah meninggalnya seorang bayi berusia satu minggu akibat hipotermia di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa, Gaza tengah.

Otoritas setempat menyebut kematian tersebut sebagai dampak langsung dari penghancuran rumah dan infrastruktur. Selain itu, blokade Israel yang berkepanjangan serta pengungsian paksa lebih dari 1,5 juta warga Palestina turut memperparah kondisi kemanusiaan.

Pejabat setempat memperingatkan jumlah korban dapat terus bertambah seiring berlanjutnya gelombang cuaca dingin. Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis disebut menghadapi risiko paling besar.

Kondisi ini diperparah oleh kekurangan peralatan pemanas, pakaian musim dingin, selimut, serta tempat tinggal yang aman. Otoritas meteorologi Palestina melaporkan sistem tekanan rendah baru melanda Gaza, membawa hujan lebat, angin kencang, dan suhu yang menurun.

Kecepatan angin dilaporkan mencapai hingga 60 kilometer per jam di sejumlah wilayah. Pertahanan Sipil Gaza menyatakan ribuan tenda pengungsi rusak atau terhempas oleh badai.

Sementara itu, puluhan bangunan yang sudah rapuh akibat serangan sebelumnya runtuh, menyebabkan korban tambahan. Kondisi ini semakin memperparah penderitaan warga yang sudah terdampak perang.

Pemerintah Gaza menuding Israel bertanggung jawab penuh atas krisis kemanusiaan tersebut. Israel disebut gagal mengizinkan masuknya bahan tempat tinggal, perlengkapan pemanas, dan bantuan kemanusiaan penting meski dalam gencatan senjata.

Otoritas Palestina mendesak komunitas internasional, PBB, dan lembaga kemanusiaan untuk segera bertindak. Mereka meminta penyediaan tempat tinggal yang aman serta bantuan kemanusiaan tanpa hambatan guna mencegah jatuhnya lebih banyak korban jiwa.

Rekomendasi Berita